
“eh, anak-anak papa duduknya di sebelah papa donk. Papa kangen nih udah lama nggak ketemu. Manda, kamu makin berisi ya? baguslah kamu sehat-sehat aja. Papa seneng.” Spontan aku dan Ben langsung cekikikan. Nggak pake suara tapi, soalnya bisa dijitak sama Kak Manda. Kak Manda yang langsung tersipu gara-gara komentar papa, kayaknya sadar sama reaksi aku dan Ben. Untung Ben yang kena, kayaknya di bawah meja kakinya udah diinjek tuh, soalnya tiba-tiba dia diem sambil meringis. Lagian si papa juga sih, masa Kak Manda dibilang berisi. Yah sensi lah, itu kan artinya makin gendut!
“ih papa. Aku disana kan nggak kerja pa. eh, om Carlos sekarang tinggal di Singapur kan? Telfonin donk pa. tanyain buat aku disana kira-kira bagusnya kerja dimana gitu?” Tanya Kak Manda. Emang nggak heran sih sama permintaan Kak Manda. Dulu aja dia dapat beasiswa untuk kuliah di Melbourne dan sempet kerja disana selama 1,5 tahun yang membuat dia bertemu sama Ben, pacaran dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Ben pun juga udah dari smp tinggal disana sama orangtuanya. Jadi nggak heran kalo dia pengen punya karier sendiri dan ketularan hidup mandiri.
“Loh, kok kamu nggak bilang dari dulu. Papa kira kamu mau jadi ibu rumah tangga aja. Tapi nggak apa-apa nih Ben, kalo Manda kerja?” Tanya papa pada Ben yang lagi milih-milih menu makanan sama aku.
“nggak apa-apa lah pa. aku malah seneng kalo Manda bisa merintis karier. Lagian Manda juga kan pinter. Kalo di rumah aja ntar ilmunya selama ini malah kebuang sia-sia. Ya nggak yank? Hehe” jelas Ben with thoughtful tone yang menjadi cirri khas dia karena pekerjaannya yang memang menjadi public speaker tapi langsung melemah kalo udah berpaling ke Kak Manda. Ben mengusap punggung Kak Manda to encourage her. Little details that I love.
“iya pa, dulu aku emang mutusin untuk nggak kerja barang setahun buat adaptasi sama kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi sekarang sih udah mulai biasa. Kita juga mulai enak ngejalaninnya nih. Salah satu alasan aku pulang juga buat omongin ini sama papa.” Jelas Kak Manda serius dan membalas support dari Ben dengan menggenggam tangannya. Duh, such a sweet couple lah.
“Hmm..gitu. oke kalo begitu ntar papa langsung telepon Om Carlo deh. Nah, kalo kamu gimana Sisil? Gimana kabar kamu? Kok Rengga nggak diajak makan sama kita?” ha-ha-ha. Ketawaku garing dalam hati. Not that name again. Terakhir aku ketemu Rengga ya pas dia ke kampusku itu. Sometimes we chat when I’m online. Aku kan nggak se cold hearted itu! Tapi ya cuma tuker kabar. Nggak lebih.
“haha. Aku udah lama nggak sama Rengga papa… abis nggak ada yang bisa nandingin papa! Jadi aku sekarang sendiri aja dulu deh. Fokus sama kuliah.” Alasan gombal andalan. Bikin Kak Manda memutar mata dan yang lainnya hanya tersenyum sambil terus menatapku. Ow, they surely wont let it go easily kayaknya.
“hmmm…loh, terus siapa tuh namanya, yang beberapa minggu ini suka jemput kamu dirumah. Itu siapa ya Sil?” Tanya mamaku mengundang gossip sambil memasang wajah seorang ibu yang tak merasa bersalah. Sedangkan Kak Manda langsung excited,
“Wow, ternyata udah ada yang baru ya? ih Sisil jago juga ya! ckckck. Siapa sih siapa? Cerita donkk.” Tapi sebelom aku mengajukan protes ke kakakku, tiba-tiba aku menangkap satu sosok yang sangat kukenal saat aku menoleh ke arah entry area restaurant,
I saw him.
Ya… siapa lagi kalo bukan Dhika si Mr. Kebetulan! Berdiri sendirian dan sedang melihatku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku pun hanya melambai balik. Tersenyum juga.
“Siapa sil?”Tanya Kak Manda.
“ha? Temenku ituu..temen.” jawabku singkat.
“eh, itu cowok yang waktu itu nganterin kamu ke butik mama kan?” Mama memperkeruh suasana.
“Sil, nggak sopan kalo dadahan gitu. Kenalin lah ke papa.” Papa yang biasanya nggak pernah ikut-ikutan jadi penasaran juga.
“ya, tapi dianya juga nggak nyamperin kita pah. Masa aku panggil-panggil? Lebih nggak sopan lagi donk.” Jelasku bloon. Tapi kayaknya Dhika nggak perlu dipanggil lagi, soalnya tanpa aku sadari dia udah berdiri di samping meja kita. Hmm…
“hallo om, tante. Saya Dhika Rumongga. Selamat malam.” Dhika memperkenalkan diri dengan sopan dan menyalami seluruh keluargaku satu persatu. Otomatis membuat semuanya jadi menyukainya saat itu juga.
“Ooh, kalo Dhika mah mama masih inget Sil. Apa kabar kamu? Dulu sering maen kerumah kan? kok sekarang udah nggak maen lagi? Maaf ya waktu itu tante nggak mengenali kamu pas nganterin Sisil ke butik. Eh, tapi kok kamu juga nggak turun waktu itu?” eh bawel bener ya. Dhika hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan borongan mamaku.
“Si mama, bingung donk ditanyain berentet gitu.” Sahut Kak Manda.
“haha. Iya tante aku temen lesnya Sisil dulu. Maaf ya waktu itu nggak sempet turun soalnya udah ada janji lagi sama orang” jelas Dhika yang dibalas anggukan oleh semuanya. Sedangkan aku hanya memerhatikan semua kejadian ini.
“oia, kamu bilang tadi Rumongga. Jangan-jangan anaknya Raka Rumongga?” Tanya papa membuatku heran. Ih, apaan nih.
“ah, bener om. Itu nama papa saya.” Dhika mengangguk.
“Waah, what a great coincidence. Orang hebat papamu itu. Om sempet bisnis bareng sama papamu dulu. eh, papamu ada disini?”
---
“you’re so quite...” Dhika yang sekarang duduk di sebelahku membuyarkan pikiran. Setelah pertanyaan papa tadi, Dhika pun menghampiri orangtuanya yang baru saja datang dan kemudian mengajak mereka ke meja kami untuk berkenalan yang disambut dengan sangat ramah oleh keluargaku dan papa yang sangat excited pun akhirnya mengajak mereka untuk makan malam bersama kami. Nah loh! Aku hanya tersenyum gagu.
“you think?” yang kalo diartiin ke bahasa Indonesia jadi menurut loo..? ya, gimana aku nggak langsung speechless. my family and Dhika’s now in the same table having dinner together. Bahkan papa kita berdua kelihatan akrab banget, ngobrol terus ngalahin mamaku dan mama Dhika yang baru aja kenalan tapi udah kayak kenal lama dan sekarang lagi ngomongin usahanya masing-masing. Mama dengan butiknya dan kalo aku nggak salah denger mama Dhika punya usaha catering. Sedangkan Kak Manda dan Ben lagi sibuk sendiri walaupun sekali-sekali ngobrol dengan aku dan Dhika. Left me all confused and just observing how this night will turn out. Interesting.
“bagus donk. I think this is a great coincidence. Just like what Om Alex said” sahut Dhika sambil mengeluarkan senyum khasnya yang sangat simpatik itu. Duh, ganteng as always. Untung aku lumayan dress up hari ini, black satin cocktail dress dengan aksen ruffles. While he’s wearing a very nice fitted dark grey shirt with black pants. Fiuhh! I guess I decide to just enjoy this evening after all. Aku tersenyum mendengar dia menyebut nama papaku.
“hihi. Satu-satunya hal yang nggak lo bisa lakuin sekarang adalah manggil gue Lex ya Dhik?” tanyaku sambil mengiris Smoked Salmon-ku. Duh ini makanan enak banget. I love fish! Especially Salmon.
“haha. Bener juga kamu Sil. Duh, nggak enak di lidah” pernyataan Dhika membuatku mengangkat alis. hah, ‘kamu’? Seorang Dhika ngomong ‘aku kamu’? Kebanyakan maen ama orang tua nih anak jadi sopan.
“hmm.. sebenarnya dari dulu gue penasaran. Kenapa lo memilih untuk manggil gue Lex daripada Sisil?” hah, abaikan saja abaikan, cuekin ajalah. Lagian mungkin dia hanya terbawa suasana kekeluargaan yang secara nggak sadar udah melingkupi malam ini dan ini adalah satu pertanyaan yang selalu lupa aku tanyain ke Dhika dari dulu. the reason why he call me Lex.
“well, karena menurut gue kalo manggilnya Sil, gue jadi ngebayangin lo itu kayak orang imbecile. Hahahaha” jerk. Enak aja dia ngatain aku imbecile which means a stupid person or a fool! Rese bener nih orang. And he obviously enjoy my expression right now. Can’t stop laughing. Ugh.
“sial. Funny Dhika. Funny” aku mulai memasang tampang nggak peduli dan berusaha konsentrasi pada makananku. Strongly refuse to think that I enjoy being teased by this man! Argh. Sedangkan Dhika masih tersenyum geli.
“haha. Becanda nggg..Lex” Kata Dhika pelan mendekati telingaku. Somehow his voice gives me goosebumps. Ah, sedekat ini aku bisa mencium wanginya dan yakin 100 persen setelah tadi mengira-ngira sejak dia duduk sebelahku kalo dia pake Emporio Armani City Glam For men. Love it. “mau tau alasan sebenarnya nggak nih?” lanjutnya. aku hanya mengangkat bahu. Nggak mau terlihat salah tingkah karena meningkatnya level kedekatan kami yang tiba-tiba ini. Padahal udah keringet dingin. Rasanya sih gitu.
“yeah, I don’t want to call you Sisil like everybody else. I want it to be special. because you’re special for me Lex” dia menatapku right into my eyes as if he meant every word he said sambil tersenyum dan aku hanya bisa diam. He made me froze. Mungkin emang bener kali nih aku imbecile. Soalnya, I feel so… stupid and foolish right now. Mau nggak mau semua cerita di masa lalu kita langsung terbayang dan jadi flashback di pikiranku. Sisil, what have you done? Now it’s all too late. Sigh.










