Wednesday, January 28, 2009

7 : big dinner



“eh, anak-anak papa duduknya di sebelah papa donk. Papa kangen nih udah lama nggak ketemu. Manda, kamu makin berisi ya? baguslah kamu sehat-sehat aja. Papa seneng.” Spontan aku dan Ben langsung cekikikan. Nggak pake suara tapi, soalnya bisa dijitak sama Kak Manda. Kak Manda yang langsung tersipu gara-gara komentar papa, kayaknya sadar sama reaksi aku dan Ben. Untung Ben yang kena, kayaknya di bawah meja kakinya udah diinjek tuh, soalnya tiba-tiba dia diem sambil meringis. Lagian si papa juga sih, masa Kak Manda dibilang berisi. Yah sensi lah, itu kan artinya makin gendut!

“ih papa. Aku disana kan nggak kerja pa. eh, om Carlos sekarang tinggal di Singapur kan? Telfonin donk pa. tanyain buat aku disana kira-kira bagusnya kerja dimana gitu?” Tanya Kak Manda. Emang nggak heran sih sama permintaan Kak Manda. Dulu aja dia dapat beasiswa untuk kuliah di Melbourne dan sempet kerja disana selama 1,5 tahun yang membuat dia bertemu sama Ben, pacaran dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Ben pun juga udah dari smp tinggal disana sama orangtuanya. Jadi nggak heran kalo dia pengen punya karier sendiri dan ketularan hidup mandiri.

“Loh, kok kamu nggak bilang dari dulu. Papa kira kamu mau jadi ibu rumah tangga aja. Tapi nggak apa-apa nih Ben, kalo Manda kerja?” Tanya papa pada Ben yang lagi milih-milih menu makanan sama aku.

“nggak apa-apa lah pa. aku malah seneng kalo Manda bisa merintis karier. Lagian Manda juga kan pinter. Kalo di rumah aja ntar ilmunya selama ini malah kebuang sia-sia. Ya nggak yank? Hehe” jelas Ben with thoughtful tone yang menjadi cirri khas dia karena pekerjaannya yang memang menjadi public speaker tapi langsung melemah kalo udah berpaling ke Kak Manda. Ben mengusap punggung Kak Manda to encourage her. Little details that I love.

“iya pa, dulu aku emang mutusin untuk nggak kerja barang setahun buat adaptasi sama kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi sekarang sih udah mulai biasa. Kita juga mulai enak ngejalaninnya nih. Salah satu alasan aku pulang juga buat omongin ini sama papa.” Jelas Kak Manda serius dan membalas support dari Ben dengan menggenggam tangannya. Duh, such a sweet couple lah.

“Hmm..gitu. oke kalo begitu ntar papa langsung telepon Om Carlo deh. Nah, kalo kamu gimana Sisil? Gimana kabar kamu? Kok Rengga nggak diajak makan sama kita?” ha-ha-ha. Ketawaku garing dalam hati. Not that name again. Terakhir aku ketemu Rengga ya pas dia ke kampusku itu. Sometimes we chat when I’m online. Aku kan nggak se cold hearted itu! Tapi ya cuma tuker kabar. Nggak lebih.

“haha. Aku udah lama nggak sama Rengga papa… abis nggak ada yang bisa nandingin papa! Jadi aku sekarang sendiri aja dulu deh. Fokus sama kuliah.” Alasan gombal andalan. Bikin Kak Manda memutar mata dan yang lainnya hanya tersenyum sambil terus menatapku. Ow, they surely wont let it go easily kayaknya.

“hmmm…loh, terus siapa tuh namanya, yang beberapa minggu ini suka jemput kamu dirumah. Itu siapa ya Sil?” Tanya mamaku mengundang gossip sambil memasang wajah seorang ibu yang tak merasa bersalah. Sedangkan Kak Manda langsung excited,

“Wow, ternyata udah ada yang baru ya? ih Sisil jago juga ya! ckckck. Siapa sih siapa? Cerita donkk.” Tapi sebelom aku mengajukan protes ke kakakku, tiba-tiba aku menangkap satu sosok yang sangat kukenal saat aku menoleh ke arah entry area restaurant,
I saw him.

Ya… siapa lagi kalo bukan Dhika si Mr. Kebetulan! Berdiri sendirian dan sedang melihatku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku pun hanya melambai balik. Tersenyum juga.

“Siapa sil?”Tanya Kak Manda.

“ha? Temenku ituu..temen.” jawabku singkat.

“eh, itu cowok yang waktu itu nganterin kamu ke butik mama kan?” Mama memperkeruh suasana.

“Sil, nggak sopan kalo dadahan gitu. Kenalin lah ke papa.” Papa yang biasanya nggak pernah ikut-ikutan jadi penasaran juga.

“ya, tapi dianya juga nggak nyamperin kita pah. Masa aku panggil-panggil? Lebih nggak sopan lagi donk.” Jelasku bloon. Tapi kayaknya Dhika nggak perlu dipanggil lagi, soalnya tanpa aku sadari dia udah berdiri di samping meja kita. Hmm…

“hallo om, tante. Saya Dhika Rumongga. Selamat malam.” Dhika memperkenalkan diri dengan sopan dan menyalami seluruh keluargaku satu persatu. Otomatis membuat semuanya jadi menyukainya saat itu juga.

“Ooh, kalo Dhika mah mama masih inget Sil. Apa kabar kamu? Dulu sering maen kerumah kan? kok sekarang udah nggak maen lagi? Maaf ya waktu itu tante nggak mengenali kamu pas nganterin Sisil ke butik. Eh, tapi kok kamu juga nggak turun waktu itu?” eh bawel bener ya. Dhika hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan borongan mamaku.

“Si mama, bingung donk ditanyain berentet gitu.” Sahut Kak Manda.

“haha. Iya tante aku temen lesnya Sisil dulu. Maaf ya waktu itu nggak sempet turun soalnya udah ada janji lagi sama orang” jelas Dhika yang dibalas anggukan oleh semuanya. Sedangkan aku hanya memerhatikan semua kejadian ini.

“oia, kamu bilang tadi Rumongga. Jangan-jangan anaknya Raka Rumongga?” Tanya papa membuatku heran. Ih, apaan nih.

“ah, bener om. Itu nama papa saya.” Dhika mengangguk.

“Waah, what a great coincidence. Orang hebat papamu itu. Om sempet bisnis bareng sama papamu dulu. eh, papamu ada disini?”

---

“you’re so quite...” Dhika yang sekarang duduk di sebelahku membuyarkan pikiran. Setelah pertanyaan papa tadi, Dhika pun menghampiri orangtuanya yang baru saja datang dan kemudian mengajak mereka ke meja kami untuk berkenalan yang disambut dengan sangat ramah oleh keluargaku dan papa yang sangat excited pun akhirnya mengajak mereka untuk makan malam bersama kami. Nah loh! Aku hanya tersenyum gagu.

“you think?” yang kalo diartiin ke bahasa Indonesia jadi menurut loo..? ya, gimana aku nggak langsung speechless. my family and Dhika’s now in the same table having dinner together. Bahkan papa kita berdua kelihatan akrab banget, ngobrol terus ngalahin mamaku dan mama Dhika yang baru aja kenalan tapi udah kayak kenal lama dan sekarang lagi ngomongin usahanya masing-masing. Mama dengan butiknya dan kalo aku nggak salah denger mama Dhika punya usaha catering. Sedangkan Kak Manda dan Ben lagi sibuk sendiri walaupun sekali-sekali ngobrol dengan aku dan Dhika. Left me all confused and just observing how this night will turn out. Interesting.

“bagus donk. I think this is a great coincidence. Just like what Om Alex said” sahut Dhika sambil mengeluarkan senyum khasnya yang sangat simpatik itu. Duh, ganteng as always. Untung aku lumayan dress up hari ini, black satin cocktail dress dengan aksen ruffles. While he’s wearing a very nice fitted dark grey shirt with black pants. Fiuhh! I guess I decide to just enjoy this evening after all. Aku tersenyum mendengar dia menyebut nama papaku.

“hihi. Satu-satunya hal yang nggak lo bisa lakuin sekarang adalah manggil gue Lex ya Dhik?” tanyaku sambil mengiris Smoked Salmon-ku. Duh ini makanan enak banget. I love fish! Especially Salmon.

“haha. Bener juga kamu Sil. Duh, nggak enak di lidah” pernyataan Dhika membuatku mengangkat alis. hah, ‘kamu’? Seorang Dhika ngomong ‘aku kamu’? Kebanyakan maen ama orang tua nih anak jadi sopan.

“hmm.. sebenarnya dari dulu gue penasaran. Kenapa lo memilih untuk manggil gue Lex daripada Sisil?” hah, abaikan saja abaikan, cuekin ajalah. Lagian mungkin dia hanya terbawa suasana kekeluargaan yang secara nggak sadar udah melingkupi malam ini dan ini adalah satu pertanyaan yang selalu lupa aku tanyain ke Dhika dari dulu. the reason why he call me Lex.

“well, karena menurut gue kalo manggilnya Sil, gue jadi ngebayangin lo itu kayak orang imbecile. Hahahaha” jerk. Enak aja dia ngatain aku imbecile which means a stupid person or a fool! Rese bener nih orang. And he obviously enjoy my expression right now. Can’t stop laughing. Ugh.

“sial. Funny Dhika. Funny” aku mulai memasang tampang nggak peduli dan berusaha konsentrasi pada makananku. Strongly refuse to think that I enjoy being teased by this man! Argh. Sedangkan Dhika masih tersenyum geli.

“haha. Becanda nggg..Lex” Kata Dhika pelan mendekati telingaku. Somehow his voice gives me goosebumps. Ah, sedekat ini aku bisa mencium wanginya dan yakin 100 persen setelah tadi mengira-ngira sejak dia duduk sebelahku kalo dia pake Emporio Armani City Glam For men. Love it. “mau tau alasan sebenarnya nggak nih?” lanjutnya. aku hanya mengangkat bahu. Nggak mau terlihat salah tingkah karena meningkatnya level kedekatan kami yang tiba-tiba ini. Padahal udah keringet dingin. Rasanya sih gitu.

“yeah, I don’t want to call you Sisil like everybody else. I want it to be special. because you’re special for me Lex” dia menatapku right into my eyes as if he meant every word he said sambil tersenyum dan aku hanya bisa diam. He made me froze. Mungkin emang bener kali nih aku imbecile. Soalnya, I feel so… stupid and foolish right now. Mau nggak mau semua cerita di masa lalu kita langsung terbayang dan jadi flashback di pikiranku. Sisil, what have you done? Now it’s all too late. Sigh.

Saturday, January 24, 2009

6 : they're back


Sudah dua minggu sejak makan siangku dengan Dhika. Semenjak itu sih aku sama dia cuma sekedar telfon-telfonan - we don’t really like sms-ing. Dari dulu kita lebih milih untuk telfon and had a good talk - malem-malem sepulangnya dia kerja dan sekali ketemuan di Pacific Place karena dia belom pernah kesana dan minta temenin liat-liat dan akhirnya kita ngopi-ngopi di Little Black CafĂ© dan ngobrolin tentang kerjaan dia, kuliahku and many things. But this time no teasing! Yup, yup. Try to convince myself that it wouldn’t harm anyone. Rite? Tapi saat ini, aku nggak mau mikirin Dhika atau siapapun, soalnya papaku baru aja pulang dari Sidney dan kebetulan banget Manda kakakku juga lagi liburan ke Jakarta sama suaminya Ben. Yeaah! I misses them so much! Karena itulah buat ngerayain berkumpulnya keluarga kita secara lengkap, papa memutuskan untuk mengajak makan malam di Rosso Italian Restaurant, Shangri-la. Asik, aku udah nggak sabar pengen mesen Smoked Salmon sama Tiramisu-nya. Yummy! Sekarang Aku lagi naik mobil dengan Kak Manda dan Ben sedangkan mama dan papa pake supir di mobil satu lagi.

“de, cerita-cerita donk! Kamu gimana di Jakarta? Kita terakhir ketemu 3 bulan lalu, kok sekarang kata mama kamu udah putus sama Rengga sih? Padahal aku sering chatting sama kamu, tapi nggak pernah cerita!” Tanya kak Manda sambil nyetir saat kita sudah memasukin jalanan sudirman yang lumayan macet malem ini. Ben – well, I prefer to call him Ben tanpa kak, soalnya dia toh lama tinggal di Melbourne dan kebiasaan manggil nama langsung - on the other hand sitting next to her dan lagi sibuk milih-milih cd dari koleksi kepunyaanku.

“ah, nggak usah ngomongin dia deh. Males ah. Aku kan lagi bahagia nih ketemu kakakku tercinta. Hehe” ngelesku dan berjanji untuk nyiumin mamaku ampe abis! Lagian, seneng banget gosipin anak sendiri. Dasar.

“ih, nggak usah gombal kamu. Cerita nggak?! Aku bosen nih di Singapur nggak banyak temen. Jadi nggak pernah ada cerita-cerita seru. Kerjaannya cuma ngepel ama nyuci!” keluh Kak Manda bercanda sambil ngelirik bete ke arah Ben yang menoleh ke arahnya sambil cekikikan.

“ugh, pantes tangan kamu kasar banget sayang. Ternyata kebanyakan nyuci ya. terus kalo aku pulang baunya kayak sabun colek! Sekarang aku tau kenapa!” Goda Ben yang dibalas dengan tatapan melotot Kak Manda.

“ihhhh.. biarin. Yang penting aku tetep oke! Wooghh. Sebel” Bela Kak Manda singkat karena dia harus fokus nyetir lagi. Aku cuma geleng-geleng ngeliat dagelan lokal di depanku.

“ealah, udah nikah juga masih aja saling ngatain. Dasar pasangan gila!” Aku otomatis tersenyum geli melihat Ben mencoba membujuk Kak Manda dengan gobloknya mencolek-colek dagunya yang malah bikin kakakku tambah bete.

“Ih kamu apaan sih. Aku harus konsen nih! Udah Sil, kamu nggak usah dengerin Ben! Aku lagi ngambek gara-gara dia males banget nyetir! Aku jadi kayak supir gini.” Protes Kak Manda yang makin keras volumenya. Duh, tuli nih gue lama-lama.

“sayang, aku kan masih capek nih. Tadi pagi abis meeting langsung naek pesawat ke Jakarta. Terus, kamu kan lebih kenal jalanan sini. Jangan ngambek ya. ntar aku beliin pizza. Hehe” suara Ben mulai memelas tapi masih tertawa geli ngeliat kakakkku yang masih ngambek.

“ogah! Lagian mana ada pizza di Rosso! Aku mau Lobster tuh kamu yang bayar ya. aku juga mau take away ravioli-nya!” aku memutar mata, geleng-geleng kepala. Ckckck.

“Masya Allah. Iya deh… ntar aku beliin. Tapi awas ya ntar kalo ngeluh gendut-gendut. jangan nanya aku! Soalnya aku pasti jujur. Hahaha” Ben yang mencoba mengelak karena mau dicubit, langsung majuin badannya mencium pipi kakakku dan mengelus sayang kepalanya. Kakakku yang sepertinya mulai melunak cuma mencibir dan tersipu-sipu. Ih, iri nih dalam hati!

“Eh..eh. public affection nih walaupun cuma satu orang! Kak, ntar malem tidurnya di kamar aku donk. Aku ceritanya ntar malem aja kalo udah kenyang. Kalo sekarang ntar jadinya nggak nafsu makan. Huf” sahutku. Berabe nih kalo mereka udah mulai romantis. Sama overnya kayak kalo mereka lagi berantem.

“oia, bener-bener. Oke deh kalo gitu! Beyb, malam ini kamu tidur sendiri ya. di sofa aja sana! Aku mau slumber-an di kamarnya Sisil. Hihihi” Kakakkku tersenyum jahil dan membelokkan mobil ke arah hotel Shangri-la. udah sampe toh ternyata.

“huuu. Yaudah deh nggak apa-apa. Malem ini aja ya. besok-besok sama aku!” jawab Ben yang gantian ngambek. Membuat kakakku mencubit lengan Ben gemes.

“duhh..capek deh ngeliat pasangan satu ini.” Kataku pelan. But I’m so happy to see them like this. Loving each other – with all the comedy – as if they will never be apart. Sigh, dimana ya aku bisa nemuin cowok yang bisa bikin aku bahagia kayak Kak Manda sekarang atau mama sama papa yang pernikahannya masih solid walaupun udah berjalan selama 25 tahun? Fuuuhh...

Friday, January 23, 2009

5 : lunch time!

"marah..marah tapi bingungnya kayak kebakaran sekomplek lo nyari bajunyee" Suara Rara datar di telfon segera setelah aku sadar kalo hari ini, siang ini juga aku akan ketemu Dhika! Wew. This is big! For me ya.

"heh, sembarangan lo kalo ngomong! kok lo malah nyumpahin komplek gue kebakaran sih nyong?! bantuin gue donk!" Protesku sambil membuka pintu lemariku lebar-lebar dan mulai ngubek-ngubek isinya dengan satu tangan megang hape di kuping.

"yaudah sih Sil, lo kan kemaren baru shopping baju banyak bener tuh, sampe ada yang dihold! pilih aja salah satu dari itu!" Cablaknya Rara kumat.

"heh, ga usah dibahas donk bagian itunya. tapi bener juga sih lo. tapi tetep aja gue stress! gue kan nggak tau gue mau diajak makan dimana?! help me!!" kali ini aku bener-bener nggak bisa mikir. Aku aja udah lupa kalo masih ada dua kantong baju yang masih tergeletak manis di kursi meja riasku. Hasil belanja tadi malem yang belom sempet aku beresin.

"heboh deh lo Sil. udah gini aja, lo kemaren kan abis beli kemeja tuh. nah gabungin aja sama celana jeans lo. a shirt and a jeans never go wrong beyb." Aku manggut-manggut dengerin saran Rara. Doh, udah jam 9. kok cepet banget sih waktu berlalu. Belom mandinya, belom ngelotionin satu badan! Wedew. Panik!

"gitu yaa? hmm. oke deh, gue mau siap-siap dulu nih..ntar gue telfon lagi okay” putusku. Dua jam cukup kali ya? duh, heboh banget sih berasa mau maen ke kondangan aja deh.

“itu mah wajib! Segera telfon kalo udah pulang. Gue tunggu! Hahaha” suara tawa Rara bikin aku jadi males. Dasar yee, tukang gossip! Bodo ah, baju urusan entar deh, yang penting mandi dulu..! aku pun mengambil handuk dan menghilang keluar kamar.



---

“hi Dhik, lama ya nunggunya? Sorry ya. nyokap gue nih lagi bawel.” Alasan. Padahal aku agak lama gara-gara bingung mau pake kemeja putih apa abu-abu aja. Terus sepatunya yang mana? Apa mendingan pake sandal? Tapi kalo nanti perginya ke tempat yang nggak boleh pake sandal gimana? Belom tasnya, kalo pake tas semalem kurang cocok. Tapi males banget mindahin isinya. Masya Allah, susahnya jadi cewek. Palagi pas Dhika datengnya 10 menit lebih cepet dan tiba-tiba udah nglakson diluar! Ughh..

“its okay. oia, gue perlu turun dulu nggak? Udah lama juga gue nggak ketemu Tante Ranti” usul Dhika yang cukup fantastis. Bagus, ntar mak gue bikin perjalanan ini tambah freaky gara-gara kadar antusiasnya yang kadang suka berlebihan bisa ngeluarin komen-komen nggak penting. Nggak usah pake begituan aja aku udah freak out!

“nggak usah deh. Ntar tambah panjang lagi wejangannya. Langsung cabs aja yuk!” aku memasang senyum paling manis. Semoga Dhika sadar, that is the last thing I wanna do right now. Mendingan pergi, makan, dan selesain hari ini dengan damai. Fuuhh.

“okay princess! Mau makan dimana nih?’ Dhika pun nurut.

“terserah lo deh Dhik. Kan lo yang ngajak. Tapi harus yang ngenyangin ya. gue belom sarapan nih! Hehe” jawabku serius. Tadi aku ngapain sih sebenernya abis dapet telfon dari dia? Kayaknya ketiduran di sofa deh pas nyalain tivi. Duh, nggak inget sama sekali loh.

“hahaha. U’re still the same ya Lex. Oke, kita berangkat!” Dhika memasang senyumnya sambil menoleh ke arahku sekilas, dan walopun sebentar sebelom akhirnya dia fokus menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya, suddenly it makes me feel so warm inside and thankfully he can’t see me right now, cause my cheeks must be blushing. Deg-degan.

---



“sooo, how’s life Lex?” Dhika membuka topik pembicaraan siang itu saat akhirnya kita memutuskan untuk makan seafood aja di D’Cost kemang dan duduk di pinggir kolam. Apa ajalah, dimana aja. Mau banyak nyamuk juga nggak pa-pa deh.

“life gue? Baek-baek aja Alhamdulillah Dhik. Lo?” jawabku singkat sambil mengaduk-ngaduk ice lemon teaku nggak berarah. Ya, semoga dia nggak menangkap sinyal nervousku deh. Bisa gawat.

“hahaha. Alhamdulillah gue juga baek-baek aja. Tapi bukan itu maksud gue. How’s your life while I’m gone? Is it hell or what?” Ok, bisa kupastikan satu hal, ternyata sifat percaya diri Dhika dari dulu nggak pernah hilang. Dan anehnya it’s only add his charm. Please, jangan sampe efek ke gue sekarang!

“eh, apa tuh maksudnya hell? Noo, I’m doing great Dhik. Great fam, friends, my study is good. Oh iya, kakak gue Manda taun lalu udah merit dan sekarang tinggal di Singapore sama suaminya. Everything’s fine. Although I miss my sis sometimes.” Jelasku santai. Iyaa, relax aja. Jangan kebawa tersipu-sipu atau emosi. Soalnya itu cuma bikin dia kesenengan dan makin menjadi-jadi. Padahal aku juga udah berusaha keras untuk nggak menatap langsung ke arah Dhika lama-lama. Soalnya dia ganteng banget hari ini! Hyaaa. With his stripe shirt and a short. Dan rambut clean cutnya yang sedikit basah. Slurrppp. Untung makanannya mulai didatengin. Jadi aku bisa nyibukkin diri dan sok-sok serius dengan udangku.

“hmm…you missed one thing.” Sahut Dhika tenang yang dari tadi tidak berhenti menatapku dan bikin aku tambah mules.

“what?” aku mendongak dan menaikkan alis. Ini pertama kalinya mataku ketemu langsung dengan matanya. Ahh, that eyes too, what I missed from him.

“love life. Are you seeing someone right now? Udah minta ijin belom ketemu gue? Hehe.” Jawab Dhika sambil terkekeh jahil. Aku pun memasang muka sebal dan menunduk lagi.

“lagi nggak perlu minta ijin siapa-siapa. Just broke up from a very great guy. Tapi ya, it’s not working. So I’m single now. And happy!” jawabku seadanya. Singkat dan jelas. Sedikit menekankan pada kata ‘happy’.

“whoops, okay. Berarti emang nggak ada yang bisa ngalahin charm gue ke elo ya lex? Ya nggak?” Dhika masih tersenyum geli sambil memerhatikanku yang semakin menyibukkan diri kali ini dengan kepiting. Kali ini pernyataan dia bener-bener bikin aku hampir keselek! Bisa-bisanya nih orang, udah tiga tahun nggak ketemu and his habit never change. Hobinya ngegodain aku!

“HAH? Anjirrr. Pede bener lo Dhik! Hahaha. In your imagination itu mah. It’s just not worked out. So we finished it. Fin.” Ganti topik dong. Pikirku dalem hati. Aku masih terus menghindar dari tatapan Dhika yang nggak pernah lepas dari semua reaksiku.

“hoo...we atau elo nih?” nyari masalah nih anak.

“nggak penting dibahas and stop talking about me please! Panas deh. AC-nya mati nih kayaknya!” aku mulai nggak sabar dan kesel. Tapi, there’s something about him yang bikin aku nggak bisa marah. Cuma bisa kesel, but then I’ll forgive him. Aneh deh. Malah bisa dibilang aku seneng digituin? Heh, kacau banget ye!

“hehe. Fine, I let it loose. For now. Yaudah, mau tau apa Lex? Pasti lo udah penasaran kan kok tiba-tiba gue ada disini? Hihihi” la la la…seriously rolling my eyes right now. Udah nggak bener nih anak. Tembak aja terus…

“d’oh. Seriously Dhik. Lo ngatain gue nggak berubah, sendirinya masih begitu.” Aku geleng-geleng kepala sambil pasang muka datar. And he’s not stop looking at me. staring malah! Buset. What should I do! Huuu.. lemah tak berdaya nih.

“loh, I thought that’s what you like from me? kayaknya gue masih inget deh kata-kata lo. ‘you are the only one who can make me…’ ” aku melotot dan langsung nyela dia,

“STOP! Dhika Rumongga. Please, nggak usah bahas yang lalu ya. kita disini buat apa nih?” tanyaku tegas. Don’t do this to me in one day yah Dhik. I’ve just met you. And this is really not my intention. Inget-inget masa lalu yang cuma bisa bikin hatiku ngenes dan deg-degan memuncak.

“hahahahaha. Lex. I really miss you. Especially when you blushing just like now! Did you realized that?” reflek aku langsung memegang pipiku yang justru membuat Dhika makin senang dan tertawa geli.

“Makasih Dhika.. You enjoy this do you? Sial.” Aku pasrah. Nyerah ah. Nih cowok sarab banget deh!

“Lex, gue becanda kali. Hahaha. eh, lets not make this our last meet ya! gue kan udah for good disini. We should do this again.” Kali ini Dhika hanya tersenyum, mencoba meyakinkanku. Bagus, udah puas dia kayaknya ngerjain aku.

“ya ya ya. awas ya. kali ini lo emang menang Dhik. Tunggu sampe giliran gue!” sahutku menantang. Ketemu lagi? Ah, ga nolak. Biarin. Kan kata Rara let it comes naturally. Ini cukup alami ye kan?

“hihihi. Siap! Oh ya, gue udah bilang belom? You’re so beautiful today Alexandra. I mean it.” Dhika tertawa menggoda dan semakin keras saat aku menutup mukaku karena aku yakin pasti sekarang merahnya kayak kepiting rebus!

DHIKAAAAA…gue bisa gila nih lama-lama!

---



“de, itu siapa ya? mama kayak pernah liat deh” Tanya mamaku setelah aku melambai ke arah Dhika yang turun untuk membukakan pintu buatku dan hanya mengantar sampe depan pagar butik mamaku. Nggak masuk, soalnya ternyata dia ada janji sama temennya lagi. Is it a guy or a girl kinda bugging me a bit. Tapi yaudahlah ya. dia bukan siapa-siapa aku kenapa harus mikirin juga.

“itu kan Dhika ma. Itu lohh, temen les bahasa belandaku dulu. Yang sempet beberapa kali maen ke rumah.” Aku mencium tangan mamaku dan membantu beliau yang sedang membereskan barang di mobilnya. Aku jadi mikir, mama emang nggak pernah tau kalo dulu aku sempet deket sama Dhika. padahal biasanya aku selalu cerita kalo aku lagi jadian sama siapa, tapi beda urusannya sama yang satu ini. we never really say, i'm yours-you're mine. we just let it happens. kita jalan bareng terus yaudah. but i called him mantan to make it easier to talk about. yeah, mau bilang apa? temen lama juga bukan.

“Ohh, iya iya mama inget! Yang mubazir itu kan lesnya! Nggak kamu terusin. Huh, dasar. Eh tapi, kok dia jadi ganteng banget ya sekarang. Cakep gitu de! Kamu pacaran sama dia sekarang ya? Tanya mamaku asal. Ih, dasar orangtua, mana genit banget lagi. Gemes jadinya.

“kagak ma. Dia baru aja balik dari Belanda. Terus kemaren nggak sengaja papasan di GI. Terus yaudah deh, ngobrol-ngobrol aja. Tuker kabar lah.” Jelasku sambil memenuhi tanganku dengan berkas-berkas punya mama dan laptopnya yang ditumpuk di atas tanganku.

“oh gitu.. iya iya. Yaudah, laen kali ajak maen ke rumah lagi donk. Mama kangen nih udah lama nggak ketemu” ih, si mama. Jelas-jelas tadi lupa siapa, sekarang ngomong kangen! Dasar beneran asal nih!

“haduh…genit banget si ma. Papa tuh mau dikemanain! Kasian, dinas di luar nyari duit buat kita, mama malah nyari berondong!” protesku. Papaku seorang businessman, dan kadang-kadang harus pergi ke luar negeri buat ketemu business partner atau meeting. Ya, semacem itulah. Nggak ngerti-ngerti banget juga.

“Hush, kamu kok kurang ajar banget sih ngomongnya. Udah ah, kamu masuk ke dalem gih. Ada stock baju baru dateng, kamu bantuin mama beres-beres ya.” mama menepuk kepalaku pelan dan menutup pintu mobil.

“iya mama. Tapi ntar pulangnya kita mampir supermarket ya! cemilan dirumah abis nih. Sini..sini..mwahh!” aku mencium pipi mama dan segera kabur ke dalam butik.

“Masya Allah de. Kamu girang bener ya hari ini. Ckckck. Sering-sering deh ketemu sama Dhika itu. Hahaha” kata-kata mama yang sempet terdengar sebelom aku masuk itu bikin aku kaget. Hah, is it really obvious that I’m so happy right now? Ow Ow.. Feeling nggak enak.

4 : morning call


"De, ada telfon tuh" suara mama membangunkanku pagi-pagi. Masih ngantuk! Jam berapa sih sekarang? Buset masih jam 7. niat bener tuh yang telfon. Ckckck.

"duh, dari siapa ma? aku masih ngantuk banget nih." Keluhku sambil meregangkan badan. capek banget, kemaren abis dari Starbucks, aku, Rara dan Dony langsung punya ide gila malah jalan-jalan ke monas! Terus tengah malem nyari nasi kucing di daerah blok m. bener-bener kayak orang udik dah.

"gatau tuh, suara cowo. tapi bukan Rengga sih. abis beda suaranya" ahh mak gue nih, nyebut-nyebut nama itu, bikin aku tambah pengen gulingan di kasur. Zzzzz. Mamaku yang tadinya menunggu di depan pintu sekarang udah mulai masuk kamar dan celingak celinguk mencari apapun yang bisa dirapihin sama beliau. Duh, gawat nih kalo sampe mama punya ide buat beres-beres kamar aku. Mama pun cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil melirik ke arahku yang lagi cengengesan.

"heh, anak gadis tuh mestinya jam segini udah bantuin bersih-bersih. cepetan bangun trus angkat teleponnya sana! nyesel loh kamu de'. abis suaranya seksi gitu." Sahut mamaku mulai nggak penting.

"ihhh..dasar mak centil! iya bentar, aku sikat gigi dulu!" jawabku ngelindur sambil males-malesan duduk di pinggir kasur.

"deuilah, nggak bakal nyium juga tuh orang bau mulut kamu de! sana buruan. kasian kelamaan nunggu!" aku cekikikan ngeliat mamaku mulai nggak sabar. Ih, paling enak emang ngerjain mama. Aylopyu mah!

"iya mama cantik! bawel bener pagi-pagi!" garuk-garuk kepala aku pun turun kebawah dan menuju ke arah telepon.

"halloo.."

"hello, lex? ini gue Dhika."

DEG!

"hah, dhika? eh, ada apa nih? kok tiba-tiba telepon?" spontan aku langsung rapihin rambutku dan baru sadar, nggak liat juga kali dianya dol!

"haha. nggak boleh ya? iya nih, gue lagi keinget lo aja. terus gue telepon rumah lo deh. abis gue takut nomer hape lo udah berubah." Aku memutar mataku.

"hmm..ya ya. alesan lo standar banget deh dhik. bilang aja ilang! nomer gue masih yang sama kok dari dulu nggak pernah ganti." Inget, relax Sil!

"yah, beneran lex. btw, lo ada rencana nggak hari ini?"

"ha? enggak sih. tapi jam 4 nanti gue disuruh nemenin nyokap gue ke butiknya. kenapa?" tanyaku heran. Lagian masih nggak konek juga ditanya-tanya jam 7 pagi!

"okay then! temenin gue lunch yuk! i pick you up at 11 ya? rumah lo juga belom ganti kan? hehe"

".........." aku bengong. Hah?

"halaah, jangan langsung gagu gitu donk lex! gue beneran pengen ketemu. catching up with everything! udah bodo, pokoknya lo gue jemput! ya? miss you lex..."

Tuttt….tuttt…

yah, dimatiin. Parcuy juga nih anak! Seenak udel nelfon pagi-pagi maen bikin janji belom diiyain udah ditutup. Udah gitu pake ngomong miss you?

miss you..miss you...mis lek kali!!

3 : shocking fact


"hello single ladies" sapa dony asal pas dia nyamperin kita yang udah duduk-duduk di sofa starbucks dan langsung ngambil tempat di sebelahku dan menyeruput Green tea Frapuccinoku.

"heh! enak aja lu manggil gue single. catra mau dikemanain??" protes si Rara sambil melempar tissue ke arah Dony yang udah nikmat banget ngambil posisi nyender.

"ah, selama belom ada janur kuning mah, u're still single to me beyb. hahahaha" jawab Dony asal sambil melirik ke arahku yang masih diam dari tadi. "eh, lo kenapa Sil? kok muka lo shock bener. kayak abis liat hantu aja lo!"

"hah? eh, iya Don. muke lo kayak setan! jadi gue shock deh. hehe" jawabku lebih asal lagi. Beneran deh, masih belom pulih nih ngebayangin kejadian kilat tadi. Kayak mimpi!

"ah, rese. ada apaan sih? ra, si sisil kenapa?" Tanya Dony penasaran sambil ngeluarin sebatang rokok dari casenya yang langsung dibalas Rara dengan tatapan non smoking-area-kalee-don!

"dia emang beneran abis ketemu hantu kok. gentayangan dari masa lalu!" Rara menjelaskan sambil terkekeh-kekeh tapi langsung melotot gara-gara melihat Dony yang sebal karena nggak bisa ngerokok malah meminum setengah gelas caramel latte Rara.

"sial lu ra. Dhika lo bilang hantu!" Jengkelku. Mulai sadar dan mencoba untuk fokus. Kalo nggak, bisa abis nih aku semaleman dicecar sama dua anak setan ini.

"wow, dhika mantan lo itu sil?! kok bisa? ketemu dimana?" Tanya Dony antusias dan merangkul bahuku dengan ekpresi sangat excited dan membuat aku excited juga! Fufufufu.

"iya, tadi ketemuan di eskalator pas mau turun kesini. Ehem" jawabku sok cool. Tau ah bodo ah! Tadi emang kerasanya kayak mimpi kok! Mungkin ini bakalan jadi satu-satunya kesempatan aku ketemu dia. Lagian, mau ada apaan lagi. Kita berdua udah putus kontak sejak Dhika memutuskan untuk ambil kuliah di Belanda. There’re no reason for me to see him again. Tapi sebenarnya sih… aku pengen ketemu lagi. Kangen! Dan bodohnya tadi nggak minta nomer hape dia! Ahh… dia nggak minta nomer aku juga. Wew.

"hahaha. seneng donk lo! kok pucet gitu ketemu mantan kesayangan sih? tapi Dhika emang udah berubah ya sekarang. udah sukses dia! ckckck." Sahut Dony sambil beranjak dari sofa.

"hah? maksud lo don? sotoy lo! Emang lo tau Dhika mana?" tanyaku ngagetin Dony. Bikin dia duduk lagi. Rara pun juga ikutan bingung soalnya ini fakta baru diantara kita bertiga. Yang tau persisnya aku ama Dhika cuma Rara soalnya.

"lah, tau kok! Dhika Rumongga kan yang baru-baru ini lo pernah certain di rumah Rara. Gue kenal kali. Dulu temen maen softball bareng di Senayan. Terus gue juga sering ketemu beberapa bulan ini. emang gue ga pernah cerita ya? gue ama dia sama-sama fitness di fitness first. kalo gue lagi disini, kadang-kadang suka ketemu. waktu itu malah pernah nongkrong bareng di Soho."

"HAAA..jadi lo selama ini kenal dan sering ketemu nyong? kok lo nggak pernah cerita sihh?" si Dony bener-bener minta digeprok pake ulekan kayaknya nih.

"yaa, sori sil. Gue lupa nih kayaknya, ya maap. lagian, gue juga cuma 3-4 kali kok ketemunya. lo tau gue, mana pernah nginget-nginget begituan. Lain kasusnya kalo ketemu cewek, gue pasti inget tuh. Hehe." Bela Dony nggak mutu. Rara cuma menghela nafas pasrah, bersyukur Dony ganteng karena aslinya bloon. Tuhan itu maha Adil.

"hmmm..." gue masih nggak tau mau bereaksi apa. Jadi selama ini si Dony busuk ini kenal dan sering ketemu sama Dhika. Se-real itu! Padahal gue selalu ngebayangin Dhika sebagai sosok yang cuma muncul di alam bawah sadar, yang nggak bakal pernah gue temuin lagi. Lebay ya. well, at least nggak sekarang-sekarang ini deh ketemunya.

"yaudahlah sil. emang lo masih ngarep yaa? udah ngaku aja ama kitaa!" samber Rara asal. Duh nih anak, juga minta dijadiin sambel kayaknya. I hate that question!

"yee, nggak gitu juga kali. tapi selama ini gue pikir dia ngilang gitu aja. taunya si kuda satu ini sering ketemu. gue jadi nyesel tadi segitu kagetnya." Sesalku. Tapi emang beneran, tau gitu tadi kan aku bisa lebih tenang dan nggak kayak orang gagu gitu. Huh. i feel sooo embarrassed just to think about it.

"hahaha. sisil..sisil. udah ngaku aja lo seneng kan ketemu lagi sama dhika! tadi juga gue liat Dhika sama happynya kok pas ngeliat lo." Rara masih cengar-cengir. Dia tau aku paling nggak suka masih dihubung-hubungkan sama mantanku. tapi kalo buat yang satu ini, nggak tau kenapa malah bikin aku jadi merah!

"happy..happy. lo kira lapis legit! huu, gue antara seneng dan males ketemu dia tau nggak. eh bentar don, maksud lo sukses tadi kenapa? emang dia udah punya kebon kelapa sawit sendiri? apa udah buka hotel?" tanyaku asal. Penasaran juga. But, don’t want to show it too much. Such pride.

"wooghh.. garing lo! ngarang. enggak, dia kan udah for good tinggal disini. dan sekarang udah dapet kerjaan di kedutaan Belanda. Kayaknya masa depannya nanti bisa jadi duta besar deh tuh anak. Mantap!" jawab Dony sambil cepet-cepet berdiri dan menuju counter starbucks. Takut dia, aku cegat lagi buat nanya-nanya. Dasar.

"Hmmm…" aku mengangguk-ngangguk. Saat aku melirik ke arah Rara, ternyata dia sedang memperhatikanku dari tadi.

“Sil. Whatever in your mind right now. Just, don’t lie to yourself. And I know you. So, let it come to you, naturally” Rara mulai mengeluarkan kata-kata bijaknya yang mau nggak mau harus aku setujui. She knows me better than myself kayaknya. Ya, aku nggak boleh mikirin dia. The one and only person that can make me destruct myself yet can give me the world. Sigh.


2 : ghost from the past


"si Dony udah dimana ra?" tanyaku saat Rara mematikan telepon dari Dony. sekarang ini kita lagi di Grand Indonesia, yang kata Rara mau crash some hippest place in Jakarta dan kita baru aja berantakin rak-rak aksesoris di Forever 21. hehe. untung kita beli sesuatu disana, kalo nggak bisa diamuk sama mas-masnya tuh. walaupun cuma anting mawar kembaran sama Rara gara-gara pengen kayak Sailor Jupiter yang pake anting mawar merah. dasar sableng. Terus, Dony yang lagi bete gara-gara abis berantem sama cewek barunya, memutuskan untuk join dan ninggalin ceweknya di salon. Sakitnya kumat dia.

"dia lagi cari tempat parkir. tapi gue suruh nyusulin kita di Starbucks. kesana aja langsung yuk." ajak Rara sambil berjalan ke arah eskalator. Aku mengangguk dan nggak begitu fokus karena lagi smsan sama mamaku yang besok minta ditemenin pergi. Pas aku mengikutinya dari belakang, tiba-tiba Rara berhenti.

“eh, napa sih Ra? Kok lo berhenti depan escalator gini. Bahaya tau!” protesku sambil melihat ke Rara yang tiba-tiba terdiam kaku.

“Sil, itu kayak Dhika deh.” Sebut Rara ragu sambil mengedikkan kepala ke arah seberang. Aku pun menoleh ke arah yang dia maksud, masih belom ngeh sama apa maksud Rara. Dan DEG!

Itu beneran dia, Dhika.

Sebelum aku mengumpulkan kesadaranku kembali, oknum yang dimaksud tiba-tiba udah nyamperin aku sama Rara.

“What a surprise Lex. How are you?” Sapa Dhika tanpa babibu langsung nyalamin tanganku dengan memasang senyuman khas dia. Senyum ituu… and how he used to calls my name Lex, from Sisil Alexandra. But God, I do miss that smile.

“Dhika, kok lo di Jakarta? Emang kuliahnya udah selesai ya?” tanyaku goblok. Padahal aku tau dengan pasti. Dia udah lulus dari enam bulan yang lalu. Cuma aku nggak pernah tau, dia udah balik ke Jakarta.

“haha. Youuu. Silly Sisil. Udah lah. Kalo nggak gue nggak bakal disini. Ya nggak? Hallo Ra..pa kabarnya.” Kebiasaan Dhika mengacak-acak rambutku dilakuin lagi. Dulu aku pasti langsung ngambek dan dia akan tertawa ngeliat mukaku yang berubah jelek. Tapi sekarang, aku nggak tau mau bereaksi apa. Untung, dia lagi ngobrol sama Rara. Kalo nggak, muka anehku pasti sekarang langsung jadi bahan ketawa dia. Aku memerhatikan Dhika yang sedang berdiri disampingku, melipat kedua tangannya sambil menyimak ucapan Rara dengan serius. Khas Dhika! Gayanya pun nggak berubah, jeans dan polo shirt. But in a more mature kind of way. Aku juga melihat ada sedikit siluet biru bekas janggut yang sudah dishave di wajah putihnya, rambutnya yang clean cut. Duh, ganteng, ganteng!

“terus , kalian mau kemana nih?” Tanya Dhika membuyarkan lamunanku. Rara yang tau pasti aku lagi bengong terpesona gara-gara ngeliatin Dhika, langsung menaikkan alis dan menggelengkan kepala.

“mau ke starbucks nih, janjian sama temen. Eh, mau join?” Ajakan Rara mengagetkanku. Eh gile nih si Rara. Maen ngajak-ngajak Dhika! Kalo orangnya mau gimana? I do, want it so badly lama-lama ketemu Dhika, tapi di lain pihak, aku belom siap mental! 3 years I haven’t seen him! Gosh!

“tempting. Tapi gue harus cepet-cepet balik nih. Disuruh bonyok gue. Nggak apa-apa kan? Next time okay?” jawab Dhika sambil melirik ke arahku saat bilang next time. Ge-er? Pasti! Tapi aku lega sekaligus kecewa. Campur aduklah!

“okey..see ya later Dhik” Rara melambaikan tangannya ke Dhika yang sudah melangkah lagi ke arah parking lot. Dhika hanya tersenyum simpul melihat kebisuanku dan membalikkan badan.
“mbak, diem aje mbak. Kesambet loh ntar.” Rara berkata pelan di depan mukaku.

“Ra, he’s here. He’s actually here.” Gumamku menerawang sambil ngikutin Rara lagi yang sudah menuruni escalator.

Thursday, January 22, 2009

1 : i'm sorry dear


“Sil, kemaren lo beneran, putus ama Rengga?” Rara membuka pembicaraan pagi itu. Pembicaraan yang bener-bener bikin aku nggak mood seketika.

“Gila lo ya, baru juga masuk kelas udah ditodong gitu. Nggak penting banget.” Aku mendudukkan diriku di kursi bagian paling belakang. Tempat favoritku, enak bisa nyender ke dinding. Menaruh tas di pangkuan dan meneruskan minum Ultra Milk Stroberi favoritku! Mumpung dosen kami Pak Jaya belom dateng. Lagian aku biasa sarapan di kelas pagi-pagi, alesannya di kelas ACnya dingin, soalnya di kantin panas! Outdoor sih! Iseng banget. Jelas-jelas ini Jakarta, bukan Eropa.

“Yee, siapa coba yang semalem sms gue cuma bilang, ‘Ra, gue udah putus sama Rengga! Single and happy lagi gue’. Eeh, pas gue telepon hape lo mati. Nggak niat banget sih” Rara yang sedikit ngambek langsung ngambil posisi duduk di sebelahku. Menunggu jawaban. Huu, dasar Miss Gosip!

“Biar lo penasaran terus bisa nanya pertanyaan ini ke gue besokannya! Hahaha.” Candaku. Biar aja, aku kerjain dikit nih anak.

“Garing banget deh lo Sil. Denger ya..”

“Hoy Hoy, arisan kok pagi-pagi! Ada apaan sih? Ikutan dong!” tiba-tiba Dony, temen sekelas kita yang gantengnya minta ampun mirip Zumi Zola memotong ucapan Rara. Sayang sih, nih anak playboy gila! Korbannya udah dimana-mana. Jadi aku dan Rara memutuskan untuk jadiin dia sahabat aja. Lagian anaknya asik kok. Jadi temen yaa, bukan jadi pacar! Bisa sakit hati nggak ilang-ilang dua semester!

“Ini nih, si Sisil putus ama Rengga!” Rara mengadu sama Dony. Aku pun melotot ke arah Rara dan hanya dibalas dengan tatapan biarin-lagian-sok-sok-rahasiaan-mampus-deh-lo-Sil! Sambil terkekeh-kekeh.

“Oh ya?! Yang bener Sil? Spill everything Honey” aku sedikit meleleh denger Dony manggil dengan Honey. Abis suaranya seksi berat. Aku dan Rara sudah berjanji untuk saling mengingatkan untuk nggak terpikat sama segala bentuk pesona Dony. Mulai dari suaranya, rambutnya yang hitam legam dengan potongan cepak yang bikin mukanya kelihatan tambah ganteng, giginya yang putih dan..STOP! celaka banget kalo Dony sampe tahu masalah ini tanpa penjelasan lebih lengkap. Soalnya dia ganteng tapi sakit, masa Rara yang waktu itu lagi coba-coba pake contact lens biru dan ngewarnain rambutnya jadi mahogany dengan alasan ngasal biar Mario –another hot guy in our campus- yang gosipnya suka sama cewek yang kebule-bulean bisa ngelirik Rara, langsung diumumin di radio kampus sama si Begok! “ya satu lagu buat Rara, temen gue tersayang, yang hari ini sengaja biruin matanya dan merahin rambutnya demi elo Mario, Anak manajemen! Enjoy guys!” sumpah, butuh beberapa minggu buat Rara masuk ke kampus lagi, beberapa hari untuk dia maafin Dony yang emang kelewat iseng dan tolol, beberapa jam untuk langsung ke salon terdekat dan minta rambutnya dicat item! Dan beberapa menit untuk ngacir dari kampus hari itu juga walaupun ada quiz yang bikin dia harus dapet nilai C.

“Eh, jangan isengin gue ya! Gue putus ama Rengga ada alesannya kok. Dan ini cukup complicated. I decide to put an end in our relationship since last week, based on pemikiran yang cukup matang dan dalam.” Jawab aku sok serius. Sedetik mereka cuma bengong ngeliat aku. Rara pun langsung sadar.

“Gaya deh loo. Jelas-jelas minggu lalu lo masih kegirangan pas Rengga tiba-tiba ngajakin lo nonton Ashanti di Soulnation. Ada apaan sih Sil?! Cerita nggak!” Rara udah mulai nggak sabaran. Aku cuma termenung memandang kedua sahabatku yang sekarang udah makin deketin badan mereka ke arahku –ya ampun Dony, you smell so nice- dan bikin aku sedikit mundurin badanku.

“Biasa aja deh. Gue putus sama dia karena gue udah nggak bisa lanjut lagi sama dia. Itu aja kok.” Jawabku singkat.

“Kurang memuaskan ah. Ada apa sih Sil. Eh, jangan-jangan.. ini gara-gara Dhika yah?” DEG! Kesebut kan nama itu. Nama yang terlarang banget bagi aku. Rara dan Dony yang sepertinya melihat perubahan wajahku langsung lirik-lirikan dan memandangku lagi.

“Dhika nggak ada sangkut pautnya sama…” belom selesai aku menjawab pertanyaan Rara, tiba-tiba Pak Jaya masuk ke dalam kelas. Nggak kerasa udah jam 7.40 dan Pak Jaya udah telat 20 menit. Tumben cepet, biasanya jam 8.00 baru nongol. Walaupun sering ngaret, Pak Jaya terkenal galak. Alhasil Rara dan Dony langsung cepet-cepet benerin posisi kursi mereka yang tadinya mengarah ke aku dan sok-sok sibuk ngeluarin file dari tas masing-masing. Aku yang lagi males banget kuliah Kalkulus hari itu, cuma menggeletakkan bukuku di atas meja dan mengambil iPod nano pink kesayanganku. Dengan trik rambut panjang supaya bisa nutupin kabel headset ke telinga, aku memutar lagu Nothing Last Forever – Maroon 5 sambil ngelamun ngeliatin papan tulis yang udah mulai dicoret-coret sama Pak Jaya dengan rumus-rumus yang nggak penting itu. Aku makin menerawang jauh. Rengga, maafin aku ya. You deserve someone better than me. But I do care for you when we are together. Best wishes for you. Aku mengulang kata-kata yang kemaren sore aku ucapkan ke Rengga. Aku menghela nafas. Aku yang lagi bengong, nggak sadar kalo Rara dan Dony udah liat-liatan dari tadi, memutuskan untuk memaksa aku cerita hari ini juga. Wajib!

---


“Enak nih rujaknya Ra! Curang lo, udah empat tahun gue temenan ma lo baru kali ini lo ngasih tau rujak deket rumah lo mantab!” kataku sambil menahan pedasnya sambal rujak yang tadi kebanyakan aku colek. Aku reflek langsung menenggak setengah gelas es teh manisku. Duh, nggak ada restoran manapun yang bisa ngalahin pasnya es teh manis buatan Mamanya Rara!

“Haus mbak? Makanya jangan rakus-rakus makan sambelnya. Doyan apa kalap lo?” Rara yang udah ganti baju dengan celana pendek dan baju bamboo Bali yang adem abis itu bikin aku sedikit iri. Cantik amat sih nih anak, padahal udah cuci muka, polos tak bermake up dan pake baju rumah, masih bisa dia kelihatan seksi. Huh, ego seorang wanita pun mulai muncul. Sebentar doang sih, aku juga nggak kalah seksi kok. Narsis!

“Doyan gue. Laen kali kalo gue ke rumah lo. Nih rujak kudu ada!” jawabku sambil nyengir. Meneruskan mencolekkan nanasku ke sambel. Kebanyakan lagi, kepedesan lagi. Minumnya habis. Rara yang pasang tampang sebel langsung minta pembantunya bawain minuman lagi.

“Norak lo. Cantik-cantik udik!” Rara tertawa ngeliat aku yang masih terus makan rujaknya dengan lahap. Dony yang dari tadi ngilang gara-gara ada telepon dari seorang cewek udah balik lagi ke halaman belakang dan duduk lesehan di sebelahku. Ngambek pula, gara-gara rujaknya hampir aku habisin. terus minta disuapin. Duh, untung ganteng! Coba kalo enggak. Bukannya gemes malah geli.

“hehe, tapi gue seneng Sil, lo udah bisa ketawa lagi. Tadi abis mata kuliah kalkulus lo kayaknya merengut terus. Makanya gue pikir, nah ini dia nih saatnya Sisil gue ajak makan rujak pemberi semangat hati! Hahaha” Canda Rara. Aku tersenyum. Aku tahu mereka si Rara yang super sibuk dengan segala kegiatannya sebagai salah satu anggota event organizer yang dia bangun sama temen-temen smanya itu dan Dony si playboy kita yang selalu harus on air di radio kampus -tau aja anak radio cara mengekploitasi suara seksi Dony dan jadi penarik anak-anak baru- masih mau nyempetin waktu mereka buat denger curhatan aku. Sampe dibeliin rujak segala.

“gue emang harus cerita ya?” Tanyaku bloon. Antara nggak mood sama malas. Malas soalnya pasti penjelasannya bakalan merembet kemana-mana. Merembet ke nama itu!

“udahlah Sil, Ceritain aja. Biar lo lega. Lo inget kan waktu gue putus sama Bianca gue juga langsung curhat ke lo berdua. Waktu itu gue lega banget bisa meluapkan kekesalan gue. Nah, sekarang giliran elo!” bujukan Dony malah bikin aku sama Rara menatap dia sebel. Gimana enggak, iya sih Bianca itu memang posesif banget. Dia model yang lagi naik daun dan sebagai artis dia menuntut si Dony untuk selalu ada buat dia dan nganterin dia kemana-mana. Udah gitu curigaan mulu, dulu aja dia sempet jeles gila sama aku dan Rara yang sering maen sama Dony. Bikin Dony jadi jarang ngumpul bareng karena males berantem sama Bianca. Kita sih sempet iba sama Dony waktu putus, kelihatannya sedih parah. Katanya dia sayang banget sama Bianca dan susah buat ngelupain. Kita udah sibuk gitu semingguan ngehibur Dony. Ehh, abis itu dia seenaknya aja ilang tiga hari nggak ada kabar. Nongol-nongol ngakunya dari Singapur abis refreshing sekalian nemenin kakaknya yang lagi ada seminar disana. Juga udah punya gandengan baru tuh si Amel, yang ketemu pas Dony lagi clubbing di Zouk. Padahal aku sama Rara udah ribet banget, panik nyariin dia. Nyesel!

“Jangan samain gue sama elo dong Don. Kasus Bianca mah beda banget sama Rengga. Rengga itu sumpah baiiik banget sama gue. Dia selalu ada kalo gue lagi butuh dia. Bahkan dia pernah lho dateng jam 12 malem ke rumah gue cuma karena gue bilang kangen.” Aku mengingat-ingat semua kejadian romantis yang dilakuin Rengga.

“terus kenapa lo bisa putus Sil. Perasaan gue liat kemaren lo baek-baek aja deh.” Tanya Rara sambil duduk bersila di depanku. Membereskan sisa-sisa rujak yang berantakan gara-gara aku. Hehe, maaf ya Ra.

“yaah, itu dia Ra. Gue sendiri sebenarnya juga nggak tau.” Jawabku jujur. Tapi ada sih alasannya. Cuma, kalo Rara tahu dia pasti bakalan kecewa dan nggak percaya.

“bosen ya Sil?!” ok! Pertanyaan asal tapi sangat mengena sekali dari Bung Dony! Rara yang masih terus merhatiin aku mulai sadar dengan reaksiku yang seperti ditembak langsung itu. Dia langsung geleng-geleng kepala.

“Hhe, maaf ya Ra. Penyakit gue itu kambuh lagi.” Aku berusaha memandang Rara dengan tatapan memelas. At least, she can appreciate me for telling the truth. Duh, gara-gara Dony nih. Aku kan nggak bisa bohong. Apalagi kalo udah ditembak mati gitu. Tapi bukan salah Dony juga sih. Dia kan nggak tahu. Soalnya waktu itu dia belum temenan sama kita. Sedangkan aku dan Rara udah kenal dari sejak SMA. Dulu, aku juga pernah begini. Bosen! Aku ini gampang bosenan. Udah dua kali aku mengecewakan dua cowok baik yang pernah menjadi pacarku. Mestinya aku bersyukur bisa selalu dapet cowok yang baik kayak mereka. Apalagi ada salah satunya yang ditaksir sama Rara, tapi dia ngalah demi aku. Sejak itu, dia selalu kecewa kalo penyakitku kambuh. Dan kali ini si Rengga yang kena. Sumpah, aku bosen banget sama Rengga. Dia emang selalu ada buat aku. Tapi aku nggak mau dia selalu nongol tiap hari di kampusku cuma buat jemput atau ketemu makan siang. Dia emang selalu bales smsku dan nerima telepon aku kapan pun aku butuh dia. Tapi aku nggak mau selalu ditanya udah makan apa belom sampe 5 kali sehari sama nanya dimana 10 kali sehari. Dia emang selalu bisa bikin aku ketawa dan ngajak aku jalan-jalan ke tempat seru dan spontan. Tapi lama-lama spontanitas itu hilang gara-gara rutinitas kita yang ketemu tiap hari. Jadi intinya aku egois dan aku bosan. Jadi bener kan alesan aku ke Rengga that he deserve someone better than me? Well, I need an excitement in my life to avoid me for being bored. And sadly, a person that can give me that feeling had long gone.

---

Semenjak Rujak’s Day kemarin, aku udah nggak pernah membahas masalah Rengga sama Rara maupun Dony. Mereka juga nggak pernah menanyakan lagi sama aku. Kalo diingat-ingat setelah aku minta maaf atas penyakit anehku itu ke Rara dan menjelaskan sedikit ke Dony, Rara nggak mencoba untuk nasehatin aku lagi kayak dulu waktu aku putus dengan Krisna atau Abel dengan alasan yang sama. Rara cuma ngeliatin aku dengan tatapan kecewa dan menghela nafas. Dia cuma bilang dia senang aku masih mau jujur and luckily kita nggak sempat membahas nama orang itu karena tiba-tiba mamanya Rara minta ditemenin ke supermarket dan aku sama Dony juga udah harus pulang. Dony ada janji nge-date sama cewek yang abis ditelepon siang itu. Capek banget deh lo Don!

Trrt..Trrt.. ponselku bergetar,

“Selamat siang Bu Sisilia Alexandra. Dony Nevans disini” Salam norak Dony langsung terdengar saat aku menekan tombol answer.

“Ngaco deh lo. Ada apa nih tumben telepon. Biasanya miscall!” sebenarnya gue seneng-seneng aja ditelfon sama Dony kayak gini. Suaranya itu loh.. makin seksi dengernya kalo lewat telfon. Aduh, dosa nggak ya sama temen sendiri kayak begini.

“Haha, tau aja nih. Gue lagi di kantin Sil. Bisa ketemuan nggak?” hemm, jarang-jarang Dony ngajak aku ketemuan pake nanya segala. Biasanya langsung nyuruh nyamperin. Ato nggak ya sebaliknya.

“Boleh, kebetulan dosen gue nggak masuk. Yaudah, pesenin gue gado-gado yang kayak biasanya ya Don. Nggak pake kol terus pedesnya sedang. Laper nih!” sahutku sambil menekan tombol turun lift.

“Oke Bos! Cepetan ya. Kalo nggak gado-gado lo gue abisin!”

---


“Halo Sil.” Ternyata siang itu di kantin, Dony nggak sendirian. Seorang cowok yang sangat aku kenal sudah duduk di sebelahnya. Menyapaku dan berdiri saat aku sampai di depan meja. Mempersilahkan aku duduk. Nggak kayak si Dony yang cuma cengar-cengir kuda sambil melihatku dengan tatapan maaf-ya-gue-ga-tau-apa-apa. Aku hanya tersenyum.
“Hei Ga, ngapain kamu, kok bisa ada disini?” Tanyaku basa basi. Seketika selera makanku hilang. Aku pun menyodorkan piring gado-gadoku ke Dony yang dari tadi memang udah ngeliatin. Dony pun ngerti. Dia langsung permisi pindah meja ke tempat Rama dkk sambil membawa piring gado-gadoku.

“Eh nggak apa-apa lagi si Dony nggak usah pindah. Aku tadi cuma kebetulan lihat dia lagi duduk terus aku samperin.” Sahut Rengga nggak enak sambil melihat Dony yang lagi menggusur meja sebelah.

“biarin aja. Itu emang temen-temen mainnya si Dony kok. Eh, kamu ngapain kok bisa ada disini?” tanyaku penasaran. Jangan sampe dia ngasih alesan aneh-aneh. Aku cuma pengen nyudahin pertemuan ini, nyubit Dony dikit terus pulang. Mau tidurr.

“Aku kangen sama kamu..” Duh, mellow. Suatu hal yang paling aku nggak suka. Bahkan pas aku lagi pacaran. Mendingan ngajak aku jogging deh terus makan bakso bareng daripada candle light dinner yang romantis kayak di film-film romantic comedy.

“Jangan bercanda deh” Aku menatap Rengga serius. Rengga yang selalu ngerti sama sifat aku yang seenaknya cuma tersenyum simpul. Baru inget aku, senyum Rengga emang manis banget. Dulu aku bisa langsung deg-degan kalo disenyumin gitu. Terus aku pasti langsung jadi manja. Tapi sekarang, nggak tahu kenapa. Rasanya udah biasa-biasa aja. Bagus deh.

“hehe, kamu tuh yaa. Paling nggak bisa diajak becanda. Aku kesini nemenin sepupuku tuh si Bella. Dia kan tahun depan lulus sma. Jadi aku nganter dia liat-liat kampus kamu.” Jelas Rengga lembut. Hah, kenapa dia harus sebaik ini sih. Pasti kan lebih gampang buat aku untuk nyuekin dia kalo dia jahat. Ya Allah another ungrateful thoughts of me, bukannya bersyukur bisa punya pacar sebaik Rengga. Eh mantan deng.

“oh gituu..” sahutku singkat sambil manggut-manggut. Aku memerhatikan sekeliling kantin. Karena jam makan siang sudah lewat, kantin sedikit lengang. Hanya ada Dony yang udah menghabiskan gado-gadoku, sekarang lagi becanda goblok-goblokan sama Rama, Priyo dan Barra temen satu jurusan kita. Juga ada sekumpulan cewek semester satu yang duduk di dua meja dari mejaku. Sesekali mereka melirik ke arah Rengga dan aku yang duduk berhadap-hadapan. Kira-kira apa ya yang ada di pikiran mereka. Waktu pacaran dulu, aku sering mengalami kejadian sama persis kayak ini. Rasanya bangga kalo cewek-cewek itu lagi sirik sama aku yang jalan berdua sama Rengga. Rengga physically emang oke! He goes to gym three days a week and have a very good genes in his blood. No one can blame him for being totally handsome. Tapi sama aja kok, cowok-cowok juga sirik kalo liat aku jalan sama Rengga. Kan aku sama hotnya. Narsis mode on. Kebetulan si Dony hari ini juga agak tersamar gantengnya gara-gara maen ama Rama dkk yang pada gila itu kalo udah bareng. Jadi all of their attentions –the girls- goes to Rengga. My beloved ex. Tapi bener deh, kalo udah banyak cowok yang ngeliatin aku nggak sopan, Rengga pasti langsung ngerangkul aku. Ngejagain aku. Shit, I never regret of my decisions. Tapi ini sucks! He’s too good for me.

“Kamu selalu memerhatikan sekeliling kamu ya. Aware of everything nears you.” Ucapan Rengga membuyarkan lamunanku.

“Ah enggak kok. Aku lagi mikir aja abis ini mau kemana.” Jawabku sekenanya.

“Mau pulang?” Tanya Rengga sambil menaikkan alis.

“Maybe” duh, salah nih jawabnya. Pasti bakal mengarah ke…

“Aku anterin mau? Si Bella juga paling nggak keberatan. She always like you, remember?” tawaran Rengga sebenarnya tempting juga. Masalahnya hari itu lumayan panas. Terik banget sih matahari gara-gara global warming nih. Si Dony juga kayaknya bakal lama di kampus. Biasanya kalo udah ketemu temen-temen noraknya itu dia bisa maen di kosan mereka ampe malem. But helloow, ini tuh pantang banget bagi aku. Maksudnya keputusan untuk putus kan dari aku juga supaya nggak tergantung lagi sama dia. Kok, ini masih aja dianter-anter pulang.

Trrrt..Trrrt..

“hello”

“Say, mau nemenin gue ke sency nggak? Gue lagi pengen cari-cari kaos di topshop nih. Udah abis baju kuliah gue! Kelas kita hari ini nggak ada kan?” Thank God Mella my other good friend di kampus dan si gila belanja itu ngajak aku pergi. Terlepas sudah bebanku buat mutusin ambil tawaran Rengga apa nggak.

“mau dong. Gue juga lagi craving some donuts. Apa sour sally ya? Pokoknya abis lo belanja gue ngemil ya bu!” sahutku mengiyakan sambil menyebutkan beberapa cemilan favoritku. Panas-panas gini paling enak emang ngemil Yoghurt dingin.

“Sipp! Yaudah, gue udah di tempat parkir. Gue tunggu deket pos aja ya.”

“OK!” telepon pun diputus.

“Kamu mau pergi ya?” sedikit nada kecewa keluar dari mulut Rengga.

“He eh. Gapapa kan? Tapi makasih ya udah ditawarin pulang. Hehe” kataku basi. Padahal pengen cepet-cepet kabur dari situ sekarang juga!

“yaudah gapapa. Gih, temen kamu udah nungguin kan.” Baguslah, masih Rengga yang selalu pengertian.

“iya deh. Bye Rengga” ucapku sambil bersiap-siap beranjak pergi. Agak-agak awkward harus manggil nama dia lagi. Biasanya sayang atau Hon. Takut keceplosan deh. Rengga ikutan berdiri. Sopan abis nih cowok. Apa sih sebenarnya yang kurang dari dia? Mikir cepet, nggak ada!

“Bye Sil, hope I can see you again.” Senyum Rengga mengantar kepergianku. Hope I can see you again? Yeah, let’s pray for that day I can be more nicer to you Rengga. Inget ya, you deserve better! Bukan cewek crappy kayak aku!

---

“Ohh, jadi lo ketemu Rengga.” Rara yang malam itu menelfonku langsung aku certain kejadian tadi siang. Gila, aku nggak tau deh apa yang harus aku lakuin tanpa Rara. She’s my BFF and maybe I couldn’t live without her! Yang oke dari Rara adalah dia nggak pernah ngejudge orang dan selalu mau dengerin curhatan aku yang nggak penting dan nggak jelas.

“He eh. Untung Mela langsung nelfon gue ngajak jalan ke Sency. Kalo nggak, I might end up make him take me home.” Jelasku sambil ngemilin donut yang tadi aku take away. Abis belanja, aku dan Mela sempet nongkrong di Sour Sally. Tapi pas mau pulang sempet tergoda sama J.Co! duh, harus mulai nge-gym lagi nih. Males!

“Yaah, bagus donk. Nostalgia. Siapa tau lo jadi sadar dan balikan sama dia. Hahaha” sahut Rasa asal. Aku pun langsung bete, tapi dia nggak bisa liat juga sih.

“Uhh, I admit he’s a great guy. Tapi gue kayaknya nggak bakalan mungkin balikan deh. Untuk saat ini gue juga pengen sendiri dulu Ra!”

“eh, gue mau nanya deh. Waktu putus sama Rengga, lo sempet nangis nggak? Sedih gitu.”

“Hah, sedih? Iya lah, gimana pun juga gue udah jalan sama dia selama 6 bulan lebih. Pasti kadang-kadang gue juga merasa kangen dan kehilangan kebiasaan gue sehari-hari Ra. Tapi, you know me and I got you and Dony gebleg itu jadi I’m fine.” Jelasku.

“hmm, baguslah. Gue kira lo dingin banget gitu. Udah bosenan terus datar-datar aja putus ama cowok lo.” Cela Rara sambil ketawa di seberang sana.

“Yee, sial. Nggak segitunya juga kali gue. Kalo cewek-cewek lain pada nggak mau nangisin cowoknya pas putus, gue malah rela mengeluarkan kesedihan gue. Because a guy like Rengga worth enough to have a shed of tear of mine. Hahaha”

“bener-bener deh lo ya. Jarang banget gue temuin cewek gila kayak elo. Ckckck. Eh, lo sabtu besok ada acara nggak?”

“Hah, kenapa? Lo emang nggak malem mingguan ama abang Catra?” tanyaku bingung. Catra itu pacar long lasting dan on and off-nya Rara sejak SMA. So many drama happens in their relationship. Tapi Rara sih ngelesnya biar nggak bosen jadi kalo mau kawin nanti juga nggak mati gaya. Sableng!

“nggak, nggak. Si Catra lagi ada kegiatan ukm kampusnya gitu di Puncak. Mau nggak lo jalan bareng terus sleepover di rumah gue? Udah lama nih kita nggak ancur-ancuran berdua. Crash some hip places di Jakarta. Gimana?”

“Ihh, mau dong! Gue udah dua malam minggu garing banget di rumah doang. Oke-oke. Just the two of us ya Ra. Kalo gitu, gue besok mau ke Zara ah. Beli baju baru. I have to look great lusa!”

“Sil, Sil. Emang beneran sarab deh lo. Yaudah deh! See you again in two days beib. Bye.”